Kuliah Bertahun-Tahun, Berakhir jadi Pengangguran? Dimana Letak Salahnya?

Tim Redaksi LPM Suara Ekonomi
Selasa, 1 September 2026  •  20:59
Aa
Pencari kerja memadati kegiatan Job Fair Jakarta Timur 2026 di GOR Ciracas untuk mencari peluang kerja di tengah persaingan pasar tenaga kerja. (Sumber: CNBC Indonesia, 2026)

Memiliki gelar sarjana masih sering dianggap sebagai bekal untuk mendapatkan pekerjaan yang layak. Namun, kondisi di lapangan menunjukkan tidak semua lulusan perguruan tinggi mudah masuk dunia kerja. Ketidaksesuaian kompetensi dengan kebutuhan industri hingga terbatasnya lapangan kerja membuat sebagian sarjana masih menganggur.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang disampaikan Kementerian Ketenagakerjaan, sebanyak 1.033.182 lulusan pendidikan tinggi, mulai dari Diploma IV hingga S3, masih menganggur pada Mei 2026. Jumlah tersebut mencapai sekitar 14,31 persen dari total 7,22 juta pengangguran nasional. Pada periode yang sama, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Indonesia tercatat 4,65 persen.

Salah satu penyebabnya adalah skill mismatch, yaitu ketidaksesuaian antara kemampuan pencari kerja dengan kebutuhan dunia usaha dan industri. Kepala Badan Perencanaan dan Pengembangan Ketenagakerjaan Kementerian Ketenagakerjaan, Anwar Sanusi, mengatakan persoalan tersebut juga berkaitan dengan rendahnya literasi digital dan soft skills.

“Fenomena pengangguran lulusan perguruan tinggi disebabkan adanya mismatch antara kompetensi jabatan dengan keterampilan yang dimiliki, hingga rendahnya literasi digital dan soft skills,” ujar Anwar Sanusi dikutip dari sumbar.antaranews.com.


Selain persoalan keterampilan, pertumbuhan lapangan kerja formal yang belum sebanding dengan jumlah pencari kerja turut mempersempit peluang kerja. Keterbatasan pengalaman selama kuliah serta sertifikasi yang belum sesuai kebutuhan industri juga menjadi hambatan bagi sebagian pencari kerja. 

Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menyebut sekitar 33,5 persen lulusan perguruan tinggi di Indonesia bekerja tidak sesuai dengan bidang ilmunya. Kondisi tersebut menunjukkan masih adanya jarak antara pendidikan yang diberikan kampus dan kebutuhan pasar kerja.

Dampaknya tidak hanya dirasakan pencari kerja. Mereka harus menunggu lebih lama untuk mendapatkan pekerjaan, sementara keluarga dapat menghadapi beban finansial tambahan. Di sisi lain, perusahaan juga berpotensi kesulitan mendapatkan tenaga kerja dengan keterampilan yang sesuai.


Ketimpangan penyerapan tenaga kerja turut terlihat dari sejumlah sektor. Data BPS mencatat sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menjadi bidang dengan penyerapan tenaga kerja terbesar pada Mei 2026, yakni sekitar 42,60 juta orang atau 28,75 persen dari penduduk yang bekerja. Namun, tingginya penyerapan tersebut tidak otomatis membuat seluruh lulusan perguruan tinggi masuk ke sektor tersebut karena pekerjaan yang tersedia belum tentu sesuai dengan latar belakang dan kemampuan mereka.

Sudah seharusnya pemerintah, perguruan tinggi, dan dunia usaha perlu memperkuat kerja sama. Pemerintah dapat memperluas pelatihan dan sertifikasi, sementara kampus perlu menyesuaikan kurikulum dengan perkembangan kebutuhan industri. Dunia usaha juga dapat membuka lebih banyak kesempatan magang agar mahasiswa memiliki pengalaman sebelum memasuki dunia kerja.

Persoalan ini pada akhirnya bukan hanya soal memiliki atau tidak memiliki ijazah. Pendidikan perlu membekali mahasiswa dengan kemampuan yang sesuai kebutuhan pasar kerja agar gelar yang diperoleh dapat diikuti dengan keterampilan dan pengalaman yang relevan.

Penulis: Guescha Putri Salsabila
Editor: Wirda Fauzah