Kelangkaan Pertalite di Sejumlah Daerah Ganggu Mobilitas dan Aktivitas Ekonomi Masyarakat

Tim Redaksi LPM Suara Ekonomi
Kamis, 16 Juli 2026  •  19:58
Aa

Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) subsidi jenis Pertalite yang terjadi di sejumlah daerah pada Juli 2026 menjadi perhatian masyarakat. Keterbatasan stok di berbagai stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) menyebabkan antrean kendaraan mengular. Bahkan, sejumlah SPBU dilaporkan kehabisan pasokan sebelum jadwal distribusi berikutnya.

Dilansir dari msn.com, kondisi tersebut diduga dipengaruhi oleh meningkatnya kebutuhan masyarakat yang tidak sebanding dengan kecepatan distribusi BBM ke SPBU. Lonjakan permintaan terjadi setelah sebagian pengguna BBM non-subsidi beralih menggunakan Pertalite menyusul perubahan harga.

Perubahan pola konsumsi tersebut menyebabkan permintaan Pertalite meningkat dalam waktu singkat. Di sisi lain, proses distribusi dari terminal atau depo BBM menuju SPBU membutuhkan waktu, sehingga ketika konsumsi harian melonjak, stok yang tersedia lebih cepat habis dibandingkan kondisi normal.

Antrian mengular di SPBU di Kecamatan Tanjung Morawa, Kabupaten Deli Serdang. (Sumber: Kompas.com)

Selain tingginya permintaan, proses distribusi juga menjadi faktor yang memengaruhi ketersediaan Pertalite di lapangan. Pengiriman BBM dilakukan secara bertahap sesuai jadwal distribusi. Namun, meningkatnya kebutuhan masyarakat membuat penyesuaian distribusi diperlukan agar pasokan kembali stabil.

Keterbatasan armada mobil tangki juga disebut menjadi salah satu kendala yang memengaruhi kecepatan distribusi ke berbagai wilayah. Akibatnya, sejumlah SPBU mengalami kekosongan stok selama beberapa jam hingga pasokan berikutnya tiba.

Laporan mengenai kelangkaan Pertalite datang dari berbagai daerah di Indonesia. Di Sumatera Utara, gangguan pasokan dilaporkan terjadi di Kota Medan, Kabupaten Deliserdang, Kota Binjai, Kabupaten Langkat, Kabupaten Serdang Bedagai, Kota Tebing Tinggi, Kabupaten Asahan, Kabupaten Batu Bara, hingga Kota Tanjung Balai. Kondisi serupa juga terjadi di Kota Lhokseumawe, Aceh, dengan antrean kendaraan yang dilaporkan mencapai sekitar dua kilometer.

Di wilayah Bogor dan kawasan Jabodetabek seperti di SPBU Kecamatan Cibinong, Dramaga, Bojonggede, Tanah Sareal, serta beberapa titik di Kota dan Kabupaten Bogor mengalami keterbatasan stok sehingga masyarakat harus mencari tempat lain yang masih memiliki pasokan.

Sementara itu, masyarakat di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, khususnya Kecamatan Koba, Kabupaten Bangka Tengah, juga mengaku kesulitan memperoleh Pertalite. Kondisi serupa terjadi di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, dengan antrean kendaraan roda dua maupun roda empat di sejumlah SPBU. Adapun di Sumatera Barat, keterlambatan distribusi akibat hambatan akses menuju Kota Padang menyebabkan pasokan ke beberapa SPBU sempat terganggu.

Kelangkaan Pertalite tidak hanya berdampak pada pengguna kendaraan pribadi, tetapi juga memengaruhi aktivitas ekonomi masyarakat. Pengemudi ojek daring, sopir angkutan umum, hingga pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) harus menghabiskan waktu lebih lama untuk mengantre di SPBU sehingga waktu operasional mereka berkurang.

Selain itu, distribusi barang dan layanan transportasi juga berpotensi mengalami hambatan. Antrean panjang di SPBU dapat menurunkan produktivitas masyarakat yang bergantung pada kendaraan sebagai sarana utama bekerja dan menjalankan aktivitas ekonomi.

Menanggapi kondisi tersebut, Pertamina menyatakan terus melakukan evaluasi terhadap distribusi BBM di berbagai daerah. Selain memastikan pasokan dari terminal BBM berjalan sesuai jadwal, perusahaan juga melakukan penyesuaian distribusi pada wilayah yang mengalami lonjakan konsumsi agar kebutuhan masyarakat dapat segera terpenuhi.

Masyarakat diimbau untuk mengikuti informasi resmi dari Pertamina maupun pemerintah daerah mengenai perkembangan distribusi BBM di wilayah masing-masing serta menghindari pembelian BBM secara berlebihan agar distribusi dapat berjalan lebih merata.

Penulis: Tim Redaksi LPM Suara Ekonomi