WHO Nyatakan Wabah Ebola Kongo Meluas, Kasus Tembus 5.794 dan Kematian Capai 2.786

Tim Redaksi LPM Suara Ekonomi
Minggu, 30 Agustus 2026  •  16:28
Aa

Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) melaporkan bahwa wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo (DRC) terus meluas dengan 5.794 kasus terkonfirmasi dan 2.786 kematian hingga 26 Agustus 2026. Angka tersebut menghasilkan tingkat kematian kasus atau case fatality ratio (CFR) sebesar 48,1 persen. Penyakit ini telah menjangkau 60 zona kesehatan di enam provinsi, meningkat dari 54 zona pada laporan WHO sebelumnya.

Provinsi Ituri menjadi pusat penyebaran dengan 4.802 kasus terkonfirmasi, disusul North Kivu dengan 775 kasus. Dalam kurun waktu 24 jam hingga 26 Agustus, tercatat 81 kasus baru dari 19 zona kesehatan. Perluasan wilayah terdampak menunjukkan penularan belum berhasil dikendalikan, sementara jumlah kontak yang harus dipantau mencapai 26.850 orang. Dari jumlah tersebut, sekitar 82,3 persen telah dipantau oleh petugas kesehatan.

Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menggambarkan kondisi tersebut sebagai perlombaan antara penyebaran penyakit dan upaya penanganan, “Wabah tersebut memulai penyebaran jauh lebih awal. Wabah ini masih jauh di depan kami, dan kami sedang berupaya untuk mengejarnya,” ujar Tedros dikutip dari Antaranews.com. 

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa persoalan utama bukan hanya tingginya jumlah pasien, tetapi juga kemampuan sistem kesehatan dalam mendeteksi dan memutus rantai penularan secara cepat.


Kondisi di lapangan semakin rumit karena wabah berlangsung di wilayah yang menghadapi konflik bersenjata, perpindahan penduduk, keterbatasan fasilitas kesehatan, serta masalah akses layanan. WHO mencatat sekitar satu juta pengungsi internal berada di Provinsi Ituri. Situasi tersebut memperbesar risiko penularan karena masyarakat yang berpindah tempat lebih sulit dipantau, sementara tenaga medis juga menghadapi hambatan untuk menjangkau daerah terpencil.

Respons kesehatan juga menghadapi persoalan lain. Pada 27 Agustus, Kongo mulai mendistribusikan vaksin Ervebo kepada tenaga kesehatan dan pekerja garis depan. Namun, efektivitas vaksin tersebut masih belum bisa dipastikan akan memberikan perlindungan terhadap virus Bundibugyo yang menyebabkan wabah saat ini. Oleh karena itu, WHO  mendorong pelaksanaan uji klinis bersamaan dengan penggunaannya untuk memperoleh bukti mengenai efektivitas vaksin tersebut.

Perkembangan ini menjadi peringatan serius bagi negara-negara yang berbatasan dengan Kongo. Pergerakan penduduk melalui aktivitas perdagangan, pertambangan, dan perlintasan perbatasan dapat membuka peluang penyebaran lintas negara. WHO menilai risiko bagi negara yang berbatasan langsung dengan Kongo masih tinggi, terutama Uganda, Republik Afrika Tengah, dan Sudan Selatan.

Dengan tingkat kematian hampir separuh dari total kasus terkonfirmasi dan wilayah terdampak yang terus bertambah, keberhasilan penanganan tidak cukup hanya bergantung pada vaksinasi. Penguatan fasilitas kesehatan, pelacakan kontak, perlindungan tenaga medis, akses bagi masyarakat di daerah konflik, serta dukungan pendanaan menjadi faktor penting.

Penulis: Tim Redaksi LPM Suara Ekonomi