Ibu Hamil Tewas Bersama Bayi dalam Kandungan di Tengah Konflik Intan Jaya

Tim Redaksi LPM Suara Ekonomi
Sabtu, 4 Juli 2026  •  13:48
Aa

Seorang ibu hamil bernama Melkiana Duwitau meninggal dunia bersama bayi dalam kandungannya yang berusia 32 minggu setelah diduga terkena tembakan saat terjadi kontak bersenjata di Kampung Wandoga, Distrik Sugapa, Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah, Kamis (2/7) sekitar pukul 18.45 Waktu Indonesia Timur (WIT). Peristiwa tersebut terjadi ketika aparat Tentara Nasional Indonesia (TNI) terlibat baku tembak dengan kelompok bersenjata Organisasi Papua Merdeka (OPM) di tengah hujan yang mengguyur wilayah tersebut.

Korban sempat dievakuasi ke Puskesmas Sugapa untuk mendapatkan penanganan medis. Tim kesehatan kemudian melakukan operasi darurat guna menyelamatkan bayi dalam kandungannya. Namun, upaya tersebut tidak membuahkan hasil sehingga Melkiana dan bayinya dinyatakan meninggal dunia.

Bupati Intan Jaya Aner Maisini, S. Kom., S.H., M. H berpose setelah diwawancara Kompas.com dalam program Nusaraya di Gedung Kompas Gramedia. (Sumber: kompas.com)

Bupati Intan Jaya, Aner Maisini, membenarkan adanya peristiwa tersebut, tetapi belum mengungkap pihak yang diduga bertanggung jawab atas insiden itu, “Tadi malam ada kejadian, saya tidak akan sampaikan siapa oknum atau pelaku, tetapi ada kejadian Ibu Melkiana Duwitau dengan anak dalam kandungan 32 minggu meninggal,” ujar Aner Maisini, Bupati Intan Jaya dikutip dari detik.com.

Ia juga menyampaikan bahwa Kabupaten Intan Jaya masih berstatus tanggap darurat akibat konflik kelompok bersenjata yang terus berlangsung.

Setelah kabar duka menyebar, ribuan warga menjemput jenazah Melkiana dan bayinya dari Puskesmas Sugapa, kemudian mengarak keduanya mengelilingi Kota Sugapa. Aksi tersebut menjadi bentuk penghormatan terakhir sekaligus ungkapan belasungkawa dan keprihatinan masyarakat terhadap situasi keamanan yang berulang kali menimbulkan korban sipil.

Peristiwa ini menambah daftar korban nonkombatan dalam konflik bersenjata di Intan Jaya. Kepala Perwakilan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Papua, Frits Ramandey, meminta Presiden Prabowo Subianto mengevaluasi tata kelola keamanan serta prosedur tetap prajurit TNI dan satuan keamanan lainnya yang bertugas di wilayah konflik. Permintaan tersebut disampaikan sebagai upaya memperkuat perlindungan terhadap warga sipil yang tidak terlibat dalam konflik.

Insiden ini kembali menyoroti tantangan perlindungan masyarakat sipil di daerah konflik. Di tengah upaya menjaga stabilitas keamanan, keselamatan warga sipil tetap harus menjadi prioritas dalam setiap pelaksanaannya. Meninggalnya seorang ibu hamil beserta bayi yang dikandungnya menunjukkan bahwa kelompok rentan masih menghadapi risiko besar ketika kontak bersenjata terjadi di sekitar permukiman.

Selain menimbulkan korban jiwa, konflik berkepanjangan juga berpotensi menghambat akses masyarakat terhadap layanan kesehatan. Kekhawatiran akan terjadinya baku tembak dapat membuat warga menunda atau menghindari perjalanan menuju fasilitas kesehatan, termasuk dalam kondisi darurat seperti kehamilan dan persalinan. Apabila situasi tersebut terus berlangsung tanpa adanya peningkatan perlindungan bagi masyarakat sipil, upaya menekan angka kematian ibu dan bayi di wilayah konflik dapat semakin sulit diwujudkan.

Hingga berita ini ditulis, pihak TNI maupun kepolisian belum memberikan keterangan resmi mengenai penyebab pasti penembakan maupun pihak yang bertanggung jawab atas insiden yang menewaskan Melkiana Duwitau dan bayi dalam kandungannya.

Penulis: Oleh Tim Redaksi LPM Suara Ekonomi