Hercules yang Sebelumnya Disebut Tak Turun, Kini Diakui Ada di Lokasi Kerusuhan 

Tim Redaksi LPM Suara Ekonomi
Minggu, 30 Agustus 2026  •  18:39
Aa

Gerakan Rakyat Indonesia Bersatu (GRIB) Jaya mengakui  berada di lokasi kerusuhan seusai demonstrasi di sekitar Gedung Dewan Perwakilan Rakyat/Majelis Permusyawaratan Rakyat (DPR/MPR) RI, Jakarta, Kamis (27/8/2026) malam.

Pengakuan tersebut disampaikan Kepala Divisi Hukum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) GRIB Jaya, Wilson Colling. Sebelumnya, GRIB Jaya menyatakan Hercules tidak turun dalam aksi demonstrasi dan meminta anggotanya tidak terlibat dalam kegiatan tersebut.

Dalam keterangan nya, Wilson menjelaskan Hercules turun ke lokasi setelah melihat situasi kerusuhan yang terjadi seusai demonstrasi dibubarkan. Ia menyebut kehadiran Hercules bertujuan membantu menjaga keamanan dan kondusivitas lingkungan, bukan untuk ikut dalam kerusuhan.

“Kehadiran tersebut merupakan bagian dari upaya persuasif untuk memantau keadaan dan menjaga kondusivitas lingkungan, bukan untuk memperkeruh keadaan, melakukan provokasi, ataupun terlibat dalam benturan fisik,” ujar Wilson dikutip dari Tempo.com.

Wilson juga membenarkan video yang beredar di media sosial yang memperlihatkan Hercules turun dari mobil dan menyerukan massa untuk pulang. Meski mengakui keberadaan Hercules, GRIB Jaya secara khusus membantah tudingan bahwa anggotanya terlibat dalam kerusuhan dan penganiayaan Bambang Setiyawan (59), warga Bendungan Hilir, Tanah Abang, Jakarta Pusat, yang meninggal setelah diduga dikeroyok sejumlah orang.

“Menanggapi video viral di media sosial yang menuduh anggota GRIB Jaya melakukan pemukulan yang mengakibatkan korban jiwa, kami tegaskan bahwa narasi tersebut adalah HOAKS,” kata Wilson dikutip dari IDNTimes.com.

Menurut Wilson, kekerasan terhadap Bambang terjadi di antara kelompok perusuh dan berada di lokasi yang berbeda. Ia juga mengatakan keberadaan seseorang di suatu lokasi tidak dapat secara otomatis dijadikan bukti keterlibatan dalam tindak pidana.


Bambang sebelumnya ditemukan dalam kondisi tidak sadarkan diri di tengah kericuhan di kawasan Pejompongan. Polisi mengevakuasinya ke RS Mintohardjo, namun Bambang dinyatakan meninggal dunia setelah tiba di rumah sakit.

Direktur Reserse Kriminal Umum Kepolisian Daerah (Polda) Metro Jaya Kombes Pol Iman Imanudin mengatakan penyidik masih mengumpulkan fakta hukum untuk mengungkap dugaan pengeroyokan terhadap Bambang.

“Kami sedang melakukan penyelidikan dan mengumpulkan fakta-fakta hukum yang ada di lapangan yang kami peroleh,” kata Iman dalam konferensi pers dikutip dari Kompas.com.

Selain Bambang, Faturohman (18), warga setempat, juga menjadi korban penganiayaan dalam kerusuhan di Pejompongan. Fatur mengaku diseret keluar dari gang dekat rumahnya sebelum dipukuli sejumlah orang.

Menurut keterangan Fatur kepada Kompas.com, ia telah menjelaskan kepada kelompok tersebut bahwa dirinya merupakan warga setempat. Namun, ia tetap dibawa keluar dari gang dan kemudian mengalami penganiayaan.

Fatur selanjutnya mendapat perawatan di RSUD Tarakan, Jakarta Pusat, sekaligus menjalani proses visum. Pihak keluarga dan sekolah menyebut luka akibat penganiayaan membuat sejumlah agenda pendidikan Fatur tertunda, termasuk persiapannya menghadapi ujian akhir sebagai siswa kelas 12.


Sementara itu, Polda Metro Jaya masih menyelidiki rangkaian kerusuhan yang terjadi usai demonstrasi 27 Agustus. Hingga saat ini polisi telah mengamankan 322 orang. Dari jumlah tersebut, 48 orang telah ditetapkan sebagai tersangka terkait kasus perusakan, penganiayaan, serta kepemilikan senjata tajam.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Budi Hermanto mengatakan, pihaknya masih mendalami informasi terkait dugaan keterlibatan organisasi masyarakat dalam kerusuhan tersebut.

Terkait nama Hercules, organisasi GRIB Jaya dalam pernyataan terbarunya membenarkan bahwa yang bersangkutan berada di lokasi kerusuhan. Namun Budi menegaskan, keberadaan seseorang di lokasi kejadian belum bisa dijadikan dasar untuk menyimpulkan keterlibatan dalam tindak kekerasan.

Penulis: Tim Redaksi LPM Suara Ekonomi